Gelisah, Buruk atau Baik ?

Saat pertama mendengar kata gelisah, apa yang terlintas dipikiran kita ? negatif atau positif kah ? saya rasa hampir kebanyakan orang akan berpikir negatif.

Kesan negatif emang sering dikaitkan pada kata gelisah, karena gelisah mengambar kondisi perasaan yang buruk. seperti gelisah tidak ada uang, gelisah tugas tak kunjung selesai, dan masih banyak lagi. Sebelum membahas soal gelisah, akhir-akhir ini saya sering menonton bukatalks melalui youtube. Pada acara tsb banyak sekali yang dibahas, mulai dari teknologi hingga motivasi. Dari acara inilah yang membuat saya ingin membahas soal gelisah pada blog ini.

Dari beberapa pembicara yang saya nonton, ada satu ucapan yang membuat saya terpikir bahwa “ia ya, bener banget” dan secara tidak langsung juga membuat saya intropeksi diri. Ucapan itu diucapkan oleh Rudy Soedjarwo. ia bilang “kenapa banyak orang-orang yang kreatif, mau dibidang musik atau film, tiba-tiba stop bikin sesuatu. karena gelisahannya sudah hilang”.

Setelah mendengar kalimat tersebut, kata gelisah menjadi sangat berarti untuk dipertanyakan setiap kali saya ingin berkarya. Semester ini blum ada karya satupun yang saya selesaikan. Apakah saya kurang gelisah ? saya rasa iya, hehe.

Jika kita melihat cerita dimasa lampau ketika nabi Ibrahmin mencari sosok tuhan. Kegelisahanlah yang membuatnya bergerak untuk mencari. begitu juga dengan para filsuf romawi, diawali dengan mempertanyakan suatu hal dan memerasakan kegelisahan. gelisah karena ingin mengetahui hal-hal baru. Teknologi yang saat ini kita rasakan hadir dari tangan-tangan orang yang gelisah untuk membuat suatu karya yang baru.

Saya rasa akan berbeda ketika kita mengerjakan sesuatu hal dikarenakan ada gelisahan dengan tidak ada kegelisahan didalam hati kita. Gelisah itu bisa satu paket dengan semangat, cinta, dan rasa penasaran yang tinggi. kenapa sepaket dengan cinta, karena jika tidak cinta pasti tidak akan gelisahkaan.

So, apa kegelisahanmu ?

Ayo tuangkan kegelisahan itu menjadi karya 🙂

Advertisements

Pemuda yang baik hati

Sudah sekian lama aku tidak menulis di blog ini, banyak cerita yang ingin aku tuangkan di dalam tulisan. kali ini aku berkesempatan untuk duduk santai sambil menuliskan cerita ini. sebenarnya ini cerita beberapa minggu yang lalu. saat itu malam minggu (jika aku tidak salah). malam yang semua orang ingin keluar untuk melihat sekeliling kota ataupun bersantai di sebuah kafe, terutama anak muda.

Saat itu adalah malam yang melelahkan bagiku, aku keluar hanya sekedar untuk makan dan mengambil uang. tepat di salah satu pusat perbelanjaan di kotaku, tempatku untuk mengambil uang jajanku. saat aku ingin bergegas pergi pulang, tiba-tiba mataku tertuju pada seorang pemuda dan seorang nenek tua bungkuk yang sedang membawa barang bawaannya. nenek itu berpenampilan kumuh dan kusam, berbeda dgn pemuda itu, tampil secara trendi. lantas, ku simpulkan bahwa pemuda itu bukan anak atau cucu nenek itu. jadi siapa dia ? aku tidak tau.

Pertama aku melihatnya, pemuda itu telah membawa barang nenek tsb. nenek itu sudah terlalu tua untuk keluar menyusuri jalanan kota. bahkan jalannya pun sangat lambat. menyeberang jalan pun sangat susah. pemuda itulah yang menggandengnya untuk menyebrang jalan yang penuh sesak. entah mengapa di sana aku hanya bisa terdiam melihat kebaikan hati pemuda itu, yang menolong sesama, yang tidak pernah memilih untuk menolong. perlahan nenek dan pemuda itu hampir sampai pada tepi jalan lainnya. sebelum mereka sampai aku langsung bergegas pergi. aku bertuhan, dan aku hanya bisa meminta tuhanku untuk menjaga mereka berdua.

Malam ini

Malam yang cukup kelabu, terutama bagi pasangan muda mudi yang ingin menikmati akhir pekannya, dan juga tak terkecuali jomblo sepertiku. Malam ini, di kota betuah ini hujan setetes demi setetes turun untuk menyejukkan dan membasahi malam. Air hujan yang turun dari langit nan indah dengan disinari lampu-lampu kota yang memiliki warna-warna yang bervariasi. Begitu enak dipandang mata ini. Tadi, sebelum datangnya malam aku pergi menghadiri pesta pernikahan dan pulang dengan melawan sejuknya malam disertai tetesan air hujan. Dingiiin, tetapi tak gentar melewatinya. Banyak pasangan yang tetap keluar untuk melepas rindu yang dalam, rindu yang tak dapat dikalahkan oleh tetesan air hujan. Berbeda denganku yang rindu akan kampung halaman, keluarga, dan teman-teman.

Libur Kali Ini

Tinggal beberapa hari lagi bakal pergi ke perantauku, masuk kembali ke perkuliahan yang nan menantangan diri untuk mencari ilmu pengatahuan yang luas, sebentar lagi KRS ( Kartu Rencana Studi ) bakal diisi, jadwal2 akan mulai bermunculan, ntah itu jadwal yang bersahabat maupun tidak. aku sekarang sedang menuju semester dua yang dipenuhi dengan keabu-abuan, seperti kapal laut yang sedang berlayar menuju pulau dengan lautan yang dipenuhi kabut, terus berlayar sedikit demi sedikit dengan kompas yang menunjukkan arah layaknya prinsip, ideologi, dan pedoman. terus berlayar, tidak tau apa yang di depan, apa yang menghadang, semua penuh dengan ketidakpastian hanya keyakinan diri yang bisa melawan segala ketidakpastian, usaha nyata tak kecuali juga. lupakan sejenak dengan ketidakpastian masa depan, ketakutan yang terus-menerus diberikan dari masa depan. waktunya mengoreksi diri dari kesalahan di masa lampau.

Liburan ini terasa sangat menyenangkan, bisa berjumpa kembali dengan keluarga dan sahabat-sahabat seperjuangan. walau sekarang memiliki jalan masing-masing dan perjuangan masing-masing. tetapi kami tetap terikat kuat dan sangat sulit untuk diputuskan. aku akui liburan ini sangat membuatku tidak produktif, sangat pasif, dan bergaya hidup yang tidak sehat. sampai saat ini aku belum merasakan bangun subuh yang segar di kampung halamanku sendiri. mata semakin kepanda-pandaan dan badan lemas. wow suatu pencapaian yang sangat buruk, kebiasaan tidur malamku lah yang membuatku seperti ini, ditambah dengan kasur kamarku yang sangat empuk membuatku sulit untuk pergi darinya, berbeda dengan kondisi di perantauku. seharusnya di sini aku menjadi lebih rajin lagi dengan kegiatan positif,  tapi sangat disayangkan itu hanya niat yang berujung dengan sebutan ekspetasi.

Kegiatanku selama libur ini hanya begitu-begitu saja. pertama kegiatanku yang sangat memakan banyak waktu ialah main domino, hanya bermain biasa, tidak menggunakan uang ( berjudi ). bermain inilah yang sangat memakan waktuku bisa sampai 3-5 jam, aku sering bermain ini dengan sahabat-sahabat SMK-ku dan SD-ku kemarin. mungkin ini terlihat tidak bermanfaat, tetapi ini melatih aritmatika dan daya ingat juga, sangat menyenangkan bermain ini terlebih bermain dengan sahabatmu, penuh tawa, canda, dan kejailan. kegiatanku yang kedua duduk di depan laptop kesayanganku (terkadang berbaring), ku berikan laptopku dengan nama roger. nama yang terlihat cocok sekali dengan laptopku yang seringku bawa kemana-mana, dia laptop yang penuh dengan petualangan. Banyak bisa ku lakukan dengan laptopku, aku bisa belajar, nonton, desain, mendengarkan musik, dll. selain itu aku juga sering nonton sepakbola di stadion kota kelahiranku, biasanya aku pergi bersama dengan sahabat SMP-ku, kami nonton pertandingan antar sekolah se-inhil, yang ku tau pertandingan ini disebut LPI (Liga Pelajar Indonesia). sekolahku kalah di delapan besar, aku tidak nonton waktu itu karna hujan, finalpun begitu, aku sedang asik dengan roger yang membuatku malas pergi ke stadion. pertandingan itu dimenangkan SMA 1 Kota Tembilahan, sekolah abang dan adik sepupuku.

Libur ini cukup berkesan bagiku, aku tidak tau semester depan aku bakal pulang atau tidak. rencanaku semester dua nnti ingin aktif dalam organisasi, sudah ada organisasi yang membuatku tertarik untuk bergabung. yaa semoga saja rencana ini tidak hanya berujung dengan sebutan “ekspetasi.